Ketegangan antara Thailand dan Kamboja kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Gesekan di kawasan perbatasan memicu kecemasan berbagai pihak, termasuk Indonesia. Situasi ini tak hanya menyangkut aspek geopolitik semata, tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius: apakah konflik ini akan memengaruhi ekonomi Indonesia?

Pangkal Ketegangan: Batas Wilayah dan Kepentingan Strategis
Thailand dan Kamboja terus berselisih soal wilayah perbatasan, terutama di sekitar kompleks Candi Preah Vihear. Meski Mahkamah Internasional pernah mengeluarkan putusan soal kepemilikan, kedua negara tetap bersikeras dengan klaim masing-masing. Di tengah desakan nasionalisme, militer kedua negara mulai melakukan mobilisasi terbatas.
Pada Juli 2025, insiden penembakan yang menewaskan seorang tentara Thailand memicu gelombang reaksi keras. Pemerintah Thailand menuding pasukan Kamboja bertindak agresif. Sebaliknya, Kamboja mengklaim bahwa pasukannya hanya mempertahankan diri dari pelanggaran wilayah.
Situasi ini langsung memantik kekhawatiran di kawasan ASEAN. Negara-negara anggota, termasuk Indonesia, tidak tinggal diam. Namun, perhatian publik tanah air juga mulai terarah ke satu pertanyaan utama: apakah konflik ini bisa berdampak langsung ke perekonomian nasional?
Dampak Awal: Ekspor-Impor Terhambat di Perbatasan Darat
Meski Indonesia tidak berbatasan langsung dengan Thailand atau Kamboja, arus barang dan logistik tetap bisa terganggu akibat ketegangan ini. Thailand selama ini menjadi simpul penting jalur darat regional. Banyak produk dari Kamboja dan Vietnam melewati Thailand sebelum masuk ke pasar internasional, termasuk Indonesia.
Kini, banyak pelaku logistik menunda pengiriman lewat jalur darat Thailand-Kamboja karena takut terkena imbas konflik. Dampaknya, barang yang seharusnya sampai ke pelabuhan Indonesia dalam waktu cepat menjadi tertunda. Beberapa importir mengaku sudah menyesuaikan jadwal dan mencari alternatif rute, yang tentu membutuhkan waktu dan biaya tambahan.
Investor Cemas, Bursa Regional Ikut Goyang
Tidak berhenti di sektor perdagangan, sentimen negatif akibat konflik juga menyeret pasar keuangan regional. Bursa saham Thailand sempat melemah drastis dalam satu minggu terakhir. Efeknya menjalar ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), meskipun dalam skala terbatas. Beberapa investor asing memilih menarik modal mereka sementara waktu.
Aliran modal keluar ini otomatis memengaruhi nilai tukar rupiah. Bank Indonesia mengamati fluktuasi dengan cermat dan menyatakan akan menjaga stabilitas jika volatilitas terus meningkat. Namun, jika konflik berkepanjangan, Indonesia harus bersiap menghadapi tekanan yang lebih kuat dari sisi keuangan.
Komoditas Strategis Terancam: Karet dan Beras Ikut Terdampak
Thailand dan Kamboja merupakan dua negara eksportir utama beras dan karet alam di Asia Tenggara. Ketegangan politik bisa menekan produksi dan distribusi kedua komoditas tersebut. Karena itu, Indonesia juga berpotensi mengalami lonjakan harga, terutama untuk bahan baku industri dan kebutuhan pokok seperti beras.
Sejumlah pelaku industri ban di Jawa Barat dan Sumatera sudah mulai mengantisipasi lonjakan harga karet mentah. Sementara itu, pemerintah tengah mempertimbangkan impor tambahan dari negara lain seperti India dan Myanmar jika situasi tidak membaik dalam waktu dekat.
Jika harga beras dunia naik, Indonesia tak bisa lepas dari efek domino itu. Meskipun produksi dalam negeri cukup stabil, tekanan harga dari luar bisa mendorong inflasi. Kementerian Perdagangan dan Bulog pun mulai menyiapkan langkah mitigasi, termasuk mempercepat distribusi cadangan beras pemerintah.
ASEAN Didorong Bergerak Cepat: Indonesia Ambil Posisi Strategis
Dalam situasi ini, Indonesia tidak tinggal diam. Sebagai salah satu negara terbesar di ASEAN, Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas kawasan. Menteri Luar Negeri RI telah menghubungi kedua belah pihak dan mendorong pertemuan darurat di tingkat ASEAN.
Jika konflik terus memburuk, Indonesia berisiko kehilangan mitra dagang penting dan jalur logistik strategis. Oleh karena itu, diplomasi aktif menjadi senjata utama. Pemerintah Indonesia juga mengingatkan pentingnya menjunjung Piagam ASEAN dan menyelesaikan perselisihan melalui dialog.
Selain itu, Indonesia tengah mempersiapkan alternatif jalur ekspor-impor via laut untuk menghindari ketergantungan pada jalur darat yang melewati Thailand. Langkah ini penting untuk memastikan arus barang tetap lancar dan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.
Sikap Dunia Usaha: Waspada Tapi Belum Panik
Pelaku usaha di Indonesia mulai bersiap menghadapi berbagai kemungkinan. Beberapa asosiasi seperti Apindo dan Kadin sudah mengeluarkan imbauan kepada anggotanya agar mengawasi perkembangan situasi regional. Mereka menyarankan para eksportir untuk mengevaluasi rute pengiriman, diversifikasi pasar, serta menjaga stok bahan baku.
Meski begitu, kalangan pengusaha belum menunjukkan kepanikan. Mereka menilai situasi masih terkendali, selama konflik tidak melebar ke wilayah lain atau berlangsung dalam jangka panjang. Pemerintah juga diminta menjaga komunikasi terbuka dengan pelaku usaha agar semua langkah antisipasi bisa berjalan efektif.
Kesimpulan: Indonesia Harus Siaga, Tapi Jangan Panik
Ketegangan antara Thailand dan Kamboja bukan sekadar konflik lokal. Sebagai bagian dari jantung ekonomi ASEAN, kedua negara memainkan peran penting dalam rantai pasok dan stabilitas regional. Oleh karena itu, Indonesia harus bersiap menghadapi berbagai skenario.
Pemerintah wajib mengaktifkan diplomasi kawasan, memastikan jalur logistik tetap terbuka, dan menjaga pasokan komoditas strategis. Sementara itu, pelaku usaha perlu fleksibel dan cepat beradaptasi.
Konflik ini mengingatkan kita bahwa stabilitas politik di Asia Tenggara sangat memengaruhi arah ekonomi regional. Jika Indonesia bisa membaca peluang, menjaga keseimbangan, dan memperkuat kerja sama, maka ekonomi nasional tetap bisa tumbuh meski badai regional menghantam.
Baca Juga: Jaksa Tanya Alasan Teken Sendiri Izin Impor Gula, Ngaku Lupa
